Pusat pendapatan adalah pusat pertanggungjawaban yang keluarannya diukur dalam satuan moneter, sedang masukannya tidak dihubungkan dengan keluarannya. Masukan pusat pendapatan tidak dihubungkan dengan pendapatannya karena kedua hal tersebut pada umumnya memang sulit untuk dihubungkan.
Contoh pusat pendapatan adalah bagian pemasaran. Contoh biaya yang sulit untuk dihubungkan dengan pendapatan adalah biaya penelitian pemasaran, pengumpulan informasi tentang pesaing, iklan dan hubungan masyarakat.
b.Biaya Dibagian Pemasaran Dan Pengendaliannya.
Dibawah ini disajikan biaya-biaya yang terjadi dibagian pemasaran. Biaya tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu biaya untuk memperoleh pesanan dan biaya untuk memenuhi pesanan. Contoh dari biaya untuk memenuhi pesanan adalah biaya pengambilan barang yang dipesan, gudang, pengepakan, penggudangan, pengiriman, pembuatan faktur dan penagihan.
Biaya untuk memperoleh pesanan pada umumnya merupakan biaya kebijakan, sedang biaya untuk memenuhi pesanan adalah biaya teknis.
c.Biaya Penelitian Pemasaran.
Informasi yang diperlukan manajer bagian pemasaran dapat diperoleh melalui catatan intern perusahaan, pengamatan terhadap pesaing, dan penelitian pasar. Sumber catatan intern perusahaan adalah informasi tentang pembeli, informasi tersebut dapat diperoleh saat penjualan. Akan tetapi, manajer kadang-kadang tidak dapat menunggu sampai informasi tersebut masuk, sehingga perlu mengadakan penelitian pasar. Informasi yang diperoleh dari penelitian pasar digunakan untuk mengidentifikasi kesempatan pasar.
Dalam penelitian pemasaran, bagian pemasaran harus bekerja sama dengan bagian penelitian dalam menentukan masalah dan tujuan penelitian. Biaya penelitian pemasaran merupakan biaya kebijakan.
d.Biaya Pengamatan Terhadap Pesaing.
Pengetahuan tentang apa yang dilakukan pesaing diperlukan manajemen agar manajemen dapat mengantisipasi apa yang akan terjadi, dan karenanya terhindar dari kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan. Ada cara-cara yang tidak etis yang dapat dilakukan untuk mengetahui pesaing, tentang hal ini kembali pada kebijakan perusahaan akan menerapkan sportifitas atau menghalalkan segala cara. Oleh karena itu, biaya untuk memantau pesaing merupakan biaya kebijakan.
e.Biaya Iklan.
Empat variabel kunci pembuatan program iklan, yaitu:
1.Tujuan Iklan.
Tujuan iklan tergantung pada sasaran pasar, gambaran posisi produk yang ditanamkan dalam pikiran konsumen, dan marketing mix (sekelompok variabel pemasaran yang dapat dikendalikan manajemen dan kombinasinya dapat menghasilkan permintaan di pasar sasaran sesuai dengan keinginan manajemen. Variabel terkendali tersebut adalah produk, harga, promosi dan tempat.
Iklan bertujuan untuk mengkomunikasikan sesuatu pada audiensi sasaran dalam jangka waktu tertentu. Tujuan iklan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: memberitahu, membujuk, dan mengingatkan.
2.Anggaran Iklan.
Ada empat metode yang digunakan untuk menentukan besarnya anggaran iklan: (1) kemampuan, (2) prosentase dari penjualan, (3) menyamai pesaing, dan (4) tujuan dan tugas.
3.Pesan.
Anggaran iklan yang besar tidak menjamin sukses. Hal lain yang harus diperhatikan adalah pesan iklan. Pesan ikln harus memenuhi tiga kriteria, yaitu: menunjukkan manfaat produk, menunjukkan keunggulan produk pemasang iklan, menumbuhkan kepercayaan terhadap pesan iklan. Sebelum digunakan, pesan dapat diuji pada satu kelompok sampel orang.
4.Media Penyampaian Pesan.
Pemilihan media penyampaian pesan dilakukan dengan mempertimbangkan: biaya untuk mencapai per seribu orang, biaya untuk membuat iklan, dan sebagainya.
f.Evaluasi Program Iklan.
Inti dari evaluasi terhadap program iklan adalah menguji apakah iklan berhasil mengkomunikasikan pesan yang dibawanya.
Pengujian dapat dilakukan pada saat:
1.Sebelum iklan dilaksanakan (Pretesting).
Dengan menggunakan metode langsung, metode portofolio, dan metode laboratorium.
2.Sesudah iklan dilaksanakan (Posttesting).
Menggunakan test ingatan dan test pengenalan.
g.Biaya Promosi Penjualan.
Promosi penjualan adalah intensif jangka pendek untuk menaikkan penjualan. Dari segi pengendalian manajemen, promosi tersebut dapat dibedakan menjadi promosi yang berupa pengurangan harga produk, dan promosi yang berupa pemberian hadiah.
h.Biaya Hubungan Masyarakat.
Tujuan hubungan masyarakat adalah menumbuhkan hubungan yang baik antara perusahaan dengan masyarakat melalui penumbuhan gambaran yang baik terhadap perusahaan, publikasi yang baik tentang perusahaan, menangani gosip atau peristiwa yang tidak menguntungkan bagi perusahaan.
Manfaat atas biaya untuk hubungan masyarakat tidak dapat segera terlihat dalam penjualan. Manfatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu biaya hubungan masyarakat tidak dapat dikaitkan dengan pendapatan. Biaya hubungan masyarakat merupakan biaya kebijakan.
i.Biaya Memenuhi Pesanan.
Biaya memenuhi pesanan adalah biaya untuk memenuhi pesanan kepada pembeli. Yang termasuk dalam biaya memenuhi pesanan adalah pengambilan brang pesanan dari gudang, pengepakan, penggudngan, pengiriman, pembuatn faktur dan penagihan. Biaya memenuhi pesanan merupakan biaya teknis.
One morning, Ika came to work looking radiant. Her friend Linda wanted to know why she was so happy. Ika told her that last night Denny asked her out to dinner at a very exclusive restaurant. He picked her up at seven and they drove to the restaurant located in one of the high rise buildings in the city.
A doorman in uniform opened the glass door of the restaurant. He smiled and said, “Good evening!” A waiter in black and white seated them at the table in the corner. Ika looked around her. The room, big and beautifully decorated, was nearly full. In the middle of the room was a big flower arrangement on a round glass table. Ika admired the damask table cloth, the fine silverware and the crystal glasses.
Waiters and waitresses moved along silently on the thick carpet, while soft music flowed through the room. The faint sound of people using their silverware and murmurs of conversation gave the room a sophisticated atmosphere.
“Denny ordered for us,” said Ika. “What did you have?” asked Linda. “Well, for appetizers Denny had eggrolls and I had seafood avocado. Denny’s main course was New York steak and I had grilled salmon topped with a light cheese sauce. For dessert we had coffee and crepes filled with blackberries and cream.” “How was the food?” asked Linda. “It was delicious !” sighed Ika. “The dinner must have cost quite a lot,” said Linda. Ika answered, “I am sure it did, because it was such an elegant restaurant.” “What did he mean by that?” asked Linda curiously. Ika gave her a big smile and said, “Well, he proposed to me and I said, ‘yes, yes! Oh, I’m so happy!’ ”
Maggie, an American tourist and Widya, her Indonesian friend, walked through the glass doors of McDonald’s. “McDonald’s is our kind of place. A clean and snappy place…,” sang Maggie. “Actually, I’m amazed at the outfits people are wearing.” “Well, McDonald’s is the place to see and be seen,” answered her friend. “It’s quite trendy to eat at fast food places these days.” “Really?” asked her American visitor. “Well, let’s get in line to place an order,” said Widya.
“Boy, it’s crowded!” exclaimed Maggie. “Yeah, it gets like this. Maybe we should have gone to some place with a drive-thru,” replied Widya. “They have them here?” asked Maggie, surprised. “Yeah, but people haven’t gotten used to the idea of driving up to a window to get fried chicken or French fries in a paper bag,” said Widya. “Actually, this line is moving along pretty quickly,” Maggie said.
Maggie and Widya put in their orders. Two minutes later, their meals were placed on trays and they headed for an empty table. “Look at all those kids, commented Widya. “I guess there’s a birthday party going on or something.”
“Well, here goes my diet,” said Maggie, biting into her burger. “There must be a thousand calories in this greasy Big Mac alone.” “Yeah, the Indonesian government is encouraging people to eat local cuisine because they say it’s healthier,” Widya said.
“Are there any local fast food joins in Indonesia?” Maggie asked. “Well, we have Padang food,” replied Widya. “What’s that?” questioned her friend. “It’s spicy food from West Sumatera. The food is prepared in advance and you pick out what you want to eat. You can sit down and relax and get a filling meal quickly.”
“Why don’t we go to Padang restaurant tonight?” said Maggie. “Okay,” agreed Widya.
It was almost noon when Rini, a student of ParahiyanganUniversity, got out of class. Tata, a classmate, said, “Rini, how about lunch today ?” “Okay, Udi just told me about the street stall on the corner. They say the food’s good and cheap.” “Let’s go,” Tata answered.
The stall was almost full with diners. Most of them were people from neighboring offices and students. The sound of clinking glasses, spoons and forks, and the murmurs of the diners filled the place. The seats were long benches on both sides of long tables. Seasoning, chili, kerupuk in stoppers, and bananas were on the tables. Except for used bowl, glasses, spoons and forks scattered on some of the tables, the place was relatively clean.
It took Rini and Tata some time to decide what to eat, sice all the foods behind the glass counter looked delicious. “I’d like a small portion of rice, soto ayam, oseng-osengtempe, and kerupuk, and a glass of lime juice,” Rini said to the server. “I’d like rice, gulai kambing, fried noodles, some lalapan, and a bottle of coke.” Tata said. “Wow, that’s a big lunch.” Rini commented. “Well, I’m really hungry. I didn’t have breakfast this morning,” Tata answered.
“Mmm, Udi was right.” This soto is really yummy.” Rini murmured while enjoying her food. “Gee, this gulai is fantastic !” Tata said taking a spoonful of food.
They were even more surprised when it was time to pay for the food. When they left the stall, they said simultaneously, “Let’s have lunch here again tomorrow.”
You have all heard of the place, some of you have probably been there. It is a volcano and it is especially famous for the beautiful sunrise that you can see from its rim. Just make sure you are there at dawn. People who have been there will tell you to go in the dry season. You will then have a better chance of seeing a blood-red sunrise.
To reach the rim of the volcano you will have to cross a vast sea of sand. You can walk or ride a pony, but going on horseback is much easier and faster. The trip takes about one and a half hours. At the end of this sea of sand, you can enjoy the beautiful sunrise, but some visitors prefer to be on the rim, at the very top of the mountain. The only way up is to climb a long fight of steps--246 steps, to be exact. What you get to see is worth all the effort : a stunning view all around you, and a memorable sunrise in the east. You can also the crater, which gives off the smell of rotten eggs and makes rumbling noises, as if awaiting its time to erupt.
The Tenggerese, who live in the small villages around the area, believe the crater is the home of the gods. Once a year, they hold the Kesada Festival. Starting at midnight, they stage a scared ceremony to please the mountain gods. While carrying torches, they burn incense, chant prayers, and offer animal sacrifices, which they throw into the crater. The Tenggerese think that if they carry out the ceremony every year, the gods will be happy, and the volcano will not erupt and destroy their villages.
The legend goes that the Tenggerese are descendants of Dadaputih and his wife. The Tenggerese regard the place as sacred and have worshipped it ever since. The name of the mountain is MountBromo.
I like to think of the time when I was a child. I remember a house full of love. In the evenings, I used to sit on my father’s lap in the living room. I would tell him everything that happened in school, I would sing the songs I had just learned or show him my coloring book. I was so proud when I could write the word bapak for the first time. I showed it to him and I remember that he was also very proud of me.
Sometimes my father had to work late or was out of town on business. Then I would sit with my mother, who used to read me stories from one of my favorite storybooks. Or we would watch television together and she would patiently answer all my questions.
But what I liked best were Sunday mornings. On Sundays, my parents used to wake up late, but I liked to get up early. I would slip into their bed and cuddle up between them. Sometimes I would doze off. But at other times I would just lie there and think of the wonderful things we would do later in the day. Those were such happy moments.
It was two days before Independence Day. Dressed in the official white uniform, Dado da Gomez was marching in front of Merdeka Place. With 53 other senior high school students, Dado had been through a rigorous training program in Jakarta every day for the past three weeks, rain or shine. Dado and his friends were on PASKIBRAKA, the flag-raising team for the August 17 ceremony at the presidential palace. They had to perform flawlessly on the big day. And to day was dress rehearsal. Altogether, PASKIBRAKA consists of two groups of 27 senior high school students. One group performs at the flag-raising ceremony in the morning, and the other the flag-lowering ceremony in the afternoon. At each ceremony, two girls are the focus. They are the ones who carry the national flag. Dado da Gomez belonged to the core group PASKIBRAKA. That is the 8 members who raise the flag. The number 8 symbolizes the month of Indonesia's independence--August. Other students are in the group of 17, symbolizing the date of independence--17. In addition to PASKIBRAKA, they are forty-five military personnel who represent the year of independence--'45. To be onPASKIBRAKA, a candidate has to go through a tight selection process, first in school, then at the city level, and finally at the province level. Two students, a boy and a girl are chosen from each of Indonesia's 27 provinces. Dado represented East Timor, together with a girl from the same province. Requirements for PASKIBRAKA are strict. Among other things, candidates should be skillful and intelligent. They should know the history of Indonesia's struggle for independence. PASKIBRAKA members should also have a pleasant personality and be disciplined. They must be in good health and have the required height. And a very important requirement is that they can march very well. Dado da Gomez met the requirements and made the team. Especially for Dado, who came from a family of simple farmers, being a PASKIBRAKA member was something he and his family were very proud of. He now goes to a state university. He is trying his best to graduate as soon possible so that he can start a career. The PASKIBRAKA experience has spurred him on to perform well in society.
Monday morning 6:00 A.M. Eka wakes up feeling lazy. She is really not looking forward to this day. It is one of those Mondays when she has a lot of things to do. She has attended classes from eight to two as usual. Then she must go to her weekly choir practice, which starts at four. She can't miss it, because she was absent on the last two sessions. As her father is out of town, Eka has to accompany her mother to a wedding reception at seven tonight. She still has to finish her term paper which is due tomorrow. It is going to be a long day for Eka. Glancing at the clock, Eka realizes it is getting late. She still has to tidy up her room and feed the cat. These are some responsibilities she has. She also has to take a shower and get dressed quickly if she wants to catch the 7:30 train to the campus. It is too bad her boyfriend can not pick her up today. There is hardly time anymore for breakfast but she must at least have a cup of coffee. It seems that everything will be rush, rush, rush ! She heaves a big sigh and says : I HATE MONDAYS !!!
A ceremony held before a childbirth is also common in some parts of Indonesia. In Java, when a woman is seven months pregnant, her family holds a simple ceremony, wishing her an easy delivery and a healthy baby. During the ceremony, she changes clothes seven times. If she lokks good every time, then the baby will be a girl. If she doesn't look good, for sure she will have a baby boy. Thirty five days after the birth of the child, another ceremony takes place. The cutting of the baby's hair is the most important event at this special ceremony. Although many people in big cities don't perform these ceremony, those with strong traditional ties still look forward to these events. Foreign visitors are usually enthusiastic about these occasions. Several days ago i took my cousin, Noval, to a circumcision ritual. Noval was very excited about it and asked a lot of questions. I was sorry i couldn't answer all his questions. Next week i will take him to a friend's wedding. Since the bride is from a Batak family, the ceremony will be a complex one. I am sure Noval will ask a lot of questions again !
Zein has an unusual hobby. It all started some 20 years ago, when Zein was a bricklayer at a construction site on the outskirts of town. He was mixing cement when he suddenly heard a scream : One of his co-workers had found two snakes coiled in the bushes. Zein ran in the direction of where he had heard the scream. Almost all the workers gathered near the place, but at a safe distance from the snakes. Everyone was scared, because someone had said the reptiles were poisonous. Although scared, too, Zein was the only one who dared to approach the snakes. Using natural instinct rather than skill, he managed to remove the dangerous animals from the site. When people shouted at him to kill them, he said "No." Zein wanted to keep them. When asked why, he couldn't say. From then on, Zein became known as the snake-catcher. Whenever a snake was seen, people would call on Zein to get it. Zein took care of all the snakes he had caught. He built cages of different sizes to house his snake collection. He fed his pets, and gradually got to know their behavior. Soon he started to breed snakes. The number and the variety of his snakes grew, and news about Zein's unusual hobby spread. On Sunday's, people came to see the snakes. Many of them left some money for the care of the animals. Then, someone tipped off the local Tourism Bureau about Zein and his snakes. Some officials came to see the collection for themselves, and later invited Zein to the tourism office. Now Zein is 40 years old and happy with his hobby, which earns him a living. On the day his place was officially opened as a tourist attraction, Zein permanently quit his job as a bricklayer. Stacks of boxes and cages fill his small house and yard. Inside them are a wide variety of snakes-small, bis snakes, long snakes, fat snakes. Zein know exactly what species each belongs to and he has a pet name for each of them. He enjoys watching the visitors admire his collection and like a professional guide, he tells them everything they want to know about his unusual hobby. Zein is proud that he can, in his own way, help preserve Indonesian fauna.
Two friends went out bear hunting. Soon they came upon a huge bear. Before the men had time to use their rifles, the bear knocked both of them down with its powerful paws. One of the men managed to scramble back to his feet and fled into the woods. From a safe distance he saw how the bear sniffed at his friends a face for a while. Then it turned around and left. As soon as the bear was gone, the first man ran towards his friend, shouting, "Are you all right ? Did he hurt you ?" "He didn't hurt me at all," his friend answered. "But he told me something." "Oh really ? And what did he tell you ?" "He told me to be more careful in choosing my friends !"
Neraca Perdagangan (Trade Balance) adalah sebuah ukuran selisih antara nilai impor dan ekspor atas barang nyata dan jasa. Tingkat neraca perdagangan dan perubahan ekspor dan impor diikuti secara luas dalam pasar valuta asing. Efek terhadap neraca perdagangan cenderung menaikkan barang-barang impor. Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak berkembang. Keadaan ini dapat memperburuk kondisi neraca pembayaran. Efek buruk lain dari globaliassi terhadap neraca pembayaran adalah pembayaran neto pendapatan faktor produksi dari luar negeri cenderung mengalami defisit. Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran pembayaran keuntungan (pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Tidak berkembangnya ekspor dapat berakibat buruk terhadap neraca pembayaran.
Tantangan Terhadap Tata Internasional yang ada khususnya menyakut pengkotan-pengkotan negara berdasar geoekonomi dan geopolitik masyarakat dunia. Persekutuan Negara-negara “non blok” yang berharap untuk menantang hubungan neo-kolonialis sesudah perang secaara berangsur-angsur diperluas dan diperkuat anatara konprensi Bandung pada tahun 1955 dan konprensi Aljazair pada tahun 1973. Konperensi-konperensi dan pertemuan-pertemuan yang banyak diadakan itu hanya memberikan hasil langsung yang kecil, sedang blok sosialis tak pernah mampu untuk membantu dunia ketiga dalam memperoleh suatu kekuatan berunding kolektif yang efektif. Namun suatu forum untuk perundingan diadakan dengan teerciptanya konprensi PBB untuk perdagangan dan pembangunan (UNCTAD) pada tahun 1964 sebagai suatu “serikat buruh” untuk Negara-negara dunia ketiga.
Hutang resmi pada luar negeri ditentukan sedemikian rupa sehingga mencakup hutang-hutang yang diadakan oleh sector pemerintah, maupun hutang-hutang yang diadakan oleh sector swasta, yang dijamin oleh badan pemerintah.
Pertemuan UNCTAD yang pertama sudah meliputi sebagian besar dari masalah-masalah yang ingin dirundingkan dan didasarkan atas asas-asas umum yang termuat dalam piagam UNCTAD yang mewajibkan setiap Negara untuk memberikan sumbangan-sumbangan kepada suatu tata ekonomi internasional yang diperbaiki yang mencakup “kemajuan ekonomi dan sosial di seluruh dunia” dan “perbaikan dalam kesejaahteraan dan tingkat hidup semua orang.
Tindakan kelompok organisasi Negara-negara pengekspor minyak bumi (OPEC), yang meningkatkan harga minyak dunia dengan empat kali lipat, terjadi dengan latar belakang erosi perlahan-lahan dalam hegemoni politik dan militer Amerika Serikat di Seluruh dunia.ruh dunia, seperti misalnya kekalahannya yang bergema di Asia Tenggara.
Tindakan OPEC tersebut di atas mencapai suatu pergeseran yang nyata dalam perimbangan kekuasaan dengan tiga konsekuensi penting:
a. Tindakan tersebut memperlihatkan keuntungan-keuntungan yang potensial bagi ketiga kelompok negara-negara pengekspor komoditi primer yang dapat menguasai pasaran dunia untuk suatu komoditi yang penting, di mana negara-negara Barat tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
b, Tindakan OPEC memperlemah negara-negara Barat dengan amat mengacaukan neraca pembayaran mereka serta mematahkan monopoli mereka dalam cadangan internasional.
c. Karena OPEC bersedia untuk menggunakan kekuatan berundingnya untuk menunjang tuntutan-tuntutan lain dari dunia ketiga, maka OPEC pun secara substansial memperkuat posisi berunding dunia ketiga secara keseluruhan.
Tantangan itu, setidak-tidaknya untuk, waktu ini, adalah suatu tantangan yang nyata, dan perundingan-perundingan antara negara-negara kaya dan miskin menjadi lebih terarah. Pada Sidang UNCTAD IV tercapai persetujuan mengenai dua hal-pembentukan suatu dana stabilisasi multi-komoditi dan suatu kode untuk pengalihan teknologi. Bidang perundingan lain yang penting ialah Konperensi PBB untuk Hukum Laut, di mana negara-negara dunia ketiga sedang mendesakkan pengaturan internasional baru untuk memastikan hak atas sumber daya; sumber daya laut dan dasar laut.
Tetapi kekuatan berunding dunia ketiga masih belum kokoh. Masih harus dilihat apakah produsen-produsen komoditi primer lain, yang diilhami oleh keberhasilan OPEC, dapat merigorganisir kartel-kartel yang efektif. Juga masih harus dilihat apakah Negara-negara Barat dapat memperbaiki kerusakan perekonomian mereka sendiri, dan apakah anggota-anggota OPEC yang lebih kaya akan terus berpihak pada dunia ketiga atau, sebaliknya, lambat laun akan ditarik ke dalam "klub orang-orang, kaya" Sistem harga "dua-tingkat" dari OPEC sudah menunjukkan adanya suatu perpecahan.
Adalah penting untuk dicatat bahwa sistem sesudah perang, yang mendorong pertumbuhan yang pesat di Eropa dan Jepang selama lebih dari dua dasawarsa, sudah memperlihatkan gejala-geja1a ketidak-stabilan yang gawat sebelum terjadinya krisis minyak. Dalam hal ini perlu disebut tiga kelemahan pokok, yaitu laju inflasi yang makin pesat; tidak stabilnya kurs mata uang dan lalu lintas mata uang, dan perkembangan industri yang berbeda-beda dari berbagai negara yang bersaingan satu sama lain. Kelemahan-kelemahan ini pada akhirnya dapat merenggangkan persekutuan negara-negara Barat dan melemahkan keterikatan dari sedikit-dikitnya beberapa negara terhadap pengaturan ekonomi dunia yang berlaku.
Bidang-bidang Perundingan Utama sangat ditentukan oleh Topik-topik diskusi yang pada waktu ini dibahas secara aktif dapat dikelompokkan dalam tiga kategori: komoditi-komoditi primer, perkembangan industri dan sumber pembiayaan luar negeri. Hingga kini yang terutama ditekankan adalah topik pertama yaitu komoditi primer.
Usul-usul khusus yang diajukan mencakup suatu "rencana komoditi terpadu" untuk komoditi-komoditi yang merupakan 80 persen dari seluruh perdagangan komoditi, tidak termasuk minyak bumi, indeksasi harga komoditi2 dan pembentukan asosiasi-asosiasi produsen.
Rencana komoditi terpadu mencakup persediaan golongan penyangga internasional yang dibiayai dengan suatu dana umum yang berjumlah beberapa milyar dollar Amerika Serikat, tekanan pada kontrak-kontrak persediaan besar yang berjangka panjang, pembiayaan kompensasi untuk kehilangan penghasilan yang disebabkan oleh jatuhnya harga, dan peningkatan pengolahan dan distribusi bahan-bahan mentah oleh negara-negara penghasil komoditi.
Usul-usul yang lebih kontroversial adalah indeksasi (kaitan) harga-harga komoditi yang diekspor oleh negara-negara dunia ketiga dengan harga-harga yang mereka bayar untuk impor dan pembentukan asosiasi-asosiasi produsen. Usul-usul ini dapat menguntungkan baik produsen maupun konsumen dengan menyediakan pasaran yang stabil, dan memungkinkan pertumbuhan yang lebih pesat. " Tetapi mereka menghadapi perlawanan dari banyak negara Barat, yang menganggap usul terakhir ini sebagai suatu keinginan untuk meniru OPEC dengan menetapkan harga-harga yang tinggi dan membatasi persediaan. Bahkan usul pertama dianggap sebagai saran yang lebih buruk bahwa kelebihan persediaan harus disubsidi atas beban mereka. Usul indeksasi akan meliputi suatu perluasan kebijaksanaan dukungan harga yang dijalankan di negara-negara Barat.
Usul balasan, yang terutama diajukan oleh Amerika Serikat, adalah pengembangan komoditi-komoditi primer melalui penanaman modal swasta dalam produksi terpadu, pengolahan dan jaringan distribusi. Hal ini tidak dapat diterima oleh banyak negara dimia ketiga, karena akan berarti perluasan penguasaan atas sumber daya-sumber daya alam mereka oleh perusahaan-perusahaan multinasional, yang sudah terjadi dalam bahan-bahan mineral, dan yang mereka sudah sejak lama menganggap sebagai contoh utama dari eksploitasi neo-kolonialis.
Tujuan-tujuan dunia yang ketiga dalam hal pembangunan industri adalah persyaratan yang lebih baik untuk memperoleh teknologi, peluang yang lebih baik untuk menjual barang-barang jadi di pasaran negara-negara Barat dan pengawasan yang lebih besar terhadap kegiatan-kegiatan perusahaan-perusahaan multinasional. Meskipun terdapat kode tentang pengalihan teknologi, namun kemungkinan terjadinya perubahan yang berarti hanya kecil sekali. Negara-negara Barat yang sudah terlibat dalam saling persaingan yang hebat, tidak berhasrat untuk membantu negara-negara dunia ketiga dalam merebut pasaran dari tangan mereka. Selama tahun-tahun terakhir ini wahana utama bagi pengembangan ekspor barang-barang jadi dari dunia ketiga adalah perusahaan-perusahaan multinasional, yang tertarik oleh tenaga kerja yang murah di negara-negara dunia ketiga. Dalam bidang barang-barang padat karya perusahaan-perusahaan ini mendatangkan perdagangan ke dunia ketiga yang merugikan para pekerja di industri-industri yang sama di Barat.
Pemerintah-pemerintah Barat tidak menentang proses ini, meskipun hal ini mempemgaruhi kesempatan kerja di negara-negara mereka sendiri, dan pemerintah-pemerintah dunia ketiga sering menyambut balk penghasilan devisa yang diperoleh dari ekspor barang-barang jadi. Kekuatan komersial dari perusahaan-perusahaan multi-nasional merupakan sebab mengapa perundingan-perundingan yang serius mengenai pembangunan industri sangat tidak mungkin, karena pemerintah di banyak negara kaya dan miskin terlampau tergantung pada mereka untuk bersedia melakukan banyak campur tangan dalam kegiatan-kegiatan mereka. Tetapi bahkan jika suatu kelompok negara-negara dunia ketiga yang lebih besar dapat kesempatan yang lebih baik unluk memasuki pasaran industri dunia, maka hal ini hanya akan mengakibatkan persaingan yang lebih hebat antara mereka tanpa membawa pertambahan netto yang berarti negara Barat berarti bahwa sistem keuangan internasional dalam bentuknya yang sekarang banyak keku-rangannya menurut pandangan kebanyakan negara yang ikut serta dalam sistem ini.
Tujuan dari setiap kelompok terutama tergantung pada hal apakah mereka adalah negara debitor atau kreditor. Dunia ketiga menghendaki kredit murah tanpa ikatan; negara-negara dan lembaga-lembaga kreditor OPEC dan Barat menghendaki keuntungan dan keamanan. Pemerintah kreditor juga menghargai pengaruh politis yang mereka peroleh, yaitu "ikatan-ikatan" yang ditentang oleh negara-negara debitor dari dunia ketiga dalam pendapatan bagi dunia ketiga sebagai keseluruhan.
Keterbatasan anggaran dalam membangun dan menumbuh kembangakan iklim industrialisasi di negara dunia ketiga, memancing mereka untuk mendapat pembiayaan dari luar negeri, khususnya negara maju. Dan, akhirnya banyak menjadi masalah hutang yang gawat dari banyak negara dunia ketiga itu sendiri, dan itu juga kesulitan bagi negara-negara OPEC untuk menemukan suatu bentuk investasi yang aman bagi penghasilan surplus dari penjualan minyak bumi, dan ketidak-stabilan mata-uang yang diderita banyak.
Tetapi jika negara-negara Barat dapat menetapkan untuk mereka sendiri peraturan-peraturan yang dapat dikerjakan dengan baik mengenai penyesuaian neraca pembayaran, maka mereka akan mampu menyelesaikan masalah-masalah spekulatif tanpa perlu memberikan konsesi-konsesi besar kepada negara-negara dunia ketiga.
Pada waktu ini memang dunia ketiga mempunyai hutang besar, terutama sesudah terjadi pertumbuhan yang pesat dalam pinjaman dari pasar modal swasta internasional. Negara-negara kaya akan terpaksa untuk menunda masa pembayaran kembali hutang-hutang ini untuk menghindari hantu kebangkrutan massal dari dunia ketiga, tetapi hal ini tidak mungkin akan menghasilkan persyaratan yang diperlunak. Bahkan harapan bahwa OPEC akan merupakan suatu sumber kredit baru mungkin akan ternyata suatu ilusi belaka; negara-negara OPEC nampaknya mempunyai pandangan yang sama seperti negara-negara Barat mengenai keamanan dan keuntungan dari dana-dana yang mereka tanamkan, dan nampaknya mereka juga akan berusaha untuk menggunakan setiap kredit yang mereka berikan sebagai suatu cara untuk memperoleh pengaruh politik.
Pedagangan luar negeri mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap sector produksi di dalam negeri. Secara umum kita bisa menyebutkan empat macam pengaruh yang bekerja melalui adanya:
1.Spesialisasi produksi.
2.Kenaikan “investasi surplus”
3.“Vent for Surplus”.
4.Kenaikan produktivitas.
Spesialisasi
Perdagagangan internasional mendorong masing-masing Negara kea rah spesialisasi dalam produksi barang di mana Negara tersebut memiliki keunggulan komperatifnya. Dalam kasus constant-cost, akan terjadi spesialisasi produksi yang penuh, sedangkan dalam kasus increasing-cost terjadi spesialisasi yang tidak penuh. Yang perlu diingat disini adalah spesialisasi itu sendiri tidak membawa manfaat kepada masyarakat kecuali apabila disertai kemungkinan menukarkan hasil produksinya dengan barang-barang lain yang dibutuhkan. Spesialisasi plus perdagangan bisa meningkatkan pendapatan riil masyarakat, tetapi spesialisasi tanpa perdagangan mungkin justru menurunkan kesejahteraan masyarakat.
Tetapi apakah spesialisasi plus perdagangan selalu menguntungkan suatu negara ? Dalam uraian diatas dapat menyimpulakan, bahwa CPF sesudah perdagangan selalu lebih tinggi atau setidak-tidaknya sama dengan CPF sebelum perdangangan. Ini berarti bahwa perdagangan tidak akan membuat pendapatan riil masyarakat lebih rendah, dan sangat mungkin membuatnya lebih tinggi. Tetapi perhatikan bahwa analisa semacam ini bersifat “statik”, yaitu tidak memperhitungkan pengaruh-pengaruh yang timbul apabila situasi berubah atau berkembang, seperti yang kita jumpai dalam kenyataan.
Ada tiga keadaan yang membuat spesialisasi dan perdagangan tidak selalu bermanfaat bagi suatu negara. Ketiga keaadan ini berkaitan dengan kemungkinan spesialisasi produksi yang terlalu jauh, artinya adanya sektor produksi yang terlalu terpusatkan pada satu atau dua barang saja. Keadaan ini adalah:
a.Ketidakstabilan pasar luar negeri
Bayangkan suatu negara yang karena dorongan spesialisasi dari perdagangan, hanya memproduksi karet dan kayu. Apabila harga karet dan kayu dunia jatuh, maka perekonomian dalam negeri otomatis akan jatuh. Lain halnya apabila negara tersebut tidak hanya berspesialsasi pada kedua barang tesebut, tetapi juga memproduksi barang-barang lain baik untuk ekspor maupun untuk kebutuhan dalam negeri sendiri. Turunnya harga dari satu atau dua barang mungkin bisa diimbangi oleh naiknnya haga barang-barang lain. Inilah pertentangan atau konfik antara spesialisasi dengan diversifikasi. Spesialisasi biasa meningkatkan pendapatan riil masyarakat secara maksimal, tetapi dengan resiko ketidakstabilan pendapatan tetapi dengan konsekuensi harus mengorbankan sebagian dari kenaikan pendapatan dari spesialisasi. Sekarang hampir semua negara di dunia menyadari bahwa spesialisasi yang terlalu jauh (meskipun didasarkan atas prinsip keunggulan komperatif, seperti yang ditunjukan oleh teori ekonomi) bukanlah keadaan yang baik. Manfaat dari diversifikasi harus pula diperhitungkan.
b.Keamanan nasional
Bayangkan suatu negara hanya memproduksi satu barang, misalnya karet, dan harus mengimpor seluruh kebutuhan bahan makanannya. Meskipun karet adalah cabang produksi dimana negara tersebut memiliki keunggulan komperatif yang paling tinggi, sehingga bisa meningkatkan CPFnya semakin mungkin, tentunya keadaan seperti ini tidak sehat. Seandainya terjadi perang atau apapun yang menghambat perdagangan luar negeri, dari manakah diperoleh bahan makanan bagi penduduk negara tersebut? Jelas bahwa pola produksi seperti yang didiktekan oleh keunggulan komperatif tidak harus selalu diikuti apabila ternyata kelangsungan hidup negara itu sendiri sama sekali tidak terjamin.
c.Dualisme
Sejarah perdagangan internasional negara-negara sedang berkembang, terutama semasa mereka masih menjadi koloni negara-negara Eropa, ditandai oleh timbulnya sektor ekspor yang berorientasi ke pasar dunia dan yang sedikit sekali berhubungan dengan sektor tradisional dalam negeri. Sektor ekspor seakan-akan bukan merupakan bagian dari negeri itu, tetapi bagian dari pasar dunia. Dalam keadaan seperti ini spesialisasi dan perdagangan internasional tidak memberi manfaat kepada perekonomian dalam negeri. Keadaan ini di negara-negara sedang berkembang setelah mereka merdeka, memang sudah menunjukan perubahan. Tetapi sering belum merupakan perubahan yang fundamental. Sektor ekspor yang “modern” masih nampak belum bisa menunjang sektor dalam negeri yang “tradisional”.
Ketiga keadaan tersebut di atas adalah peringatan bagi kita untuk tidak begitu saja dan tanpa reserve menerima dalil perdagangan Neoklasik bahwa spesialisasi dan perdagangan selalu menguntungkan dalam keaadaan apapun. Tetapi di lain pihak, uraian diatas tidak merupkan bukti bahwa manfaat dari perdagangan tidaklah bisa dipetik dalam kenyataan. Teori keunggulan komperatif masih memiliki kebenaran dasarnya, yaitu bahwa suatu negara seyogyanya memanfaatkan keunggulan komperatifnya dan kesempatan”transformasi lewat perdagangan”. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa dalam hal-hal tertentu pertimbangan-pertimbangan lain jangan dilupakan.
Investible Surplus Meningkat
Perdagangan meningkat pendapatan riil masyarakat. Dengan pendapatan riil yang lebih tinggi berarti negara tersebut mampu untuk menyisihkan dana sumber-sumber ekonomi yang lebih besar bagi investasi (inilah yang disebut “investible surplus”). Investasi yang lebih tinggi berarti laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Jadi perdagangan bisa memdorong laju pertumbuhan ekonomi.
Inilah inti dari pengaruh perdagangan internasional terhadap produksi lewat investible surplus. Ada tiga hal mengenai pengaruh ini perlu dicatat:
a.Kita harus menanyakan berapa dari manfaat perdagangan (kenaikan pendapatan riil) yang diterima oleh warga negara tersebut, dan berapa yang diterima oleh warga negara asing yang memiliki faktor produksi, misalnya modal, tenaga kerja, yang diperkejakan di negara tersebut. Dengan lain perkataan, yang lebih penting adalah berapa kenaikan GNP, bukan kenaikan GDP, yang ditimbulkan oleh adanya perdagangan.
b.Kita harus menanyakan pula berapa dari kenaikan pendapatan riil karena perdagangan tersebut akan diterjemahkan menjadi kenaikan investasi dalam negeri, dan berapa ternyata dibelanjakan untuk konsumsi yang lebih tinggi atau ditransfer ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan asing sebagai imbalan bagi modal yang ditanamkannya? Dari segi pertumbuhan ekonomi yang paling penting adalah kenaikaninvestasi dalam negeri dan bukan hanya “investible surplus”-nya.
c.Kita harus pula membedakaan antara “ pertumbuhan ekonomi” dan “pertumbuhan ekonomi”. Disebutkan di atas bagaimana dualisme dalam struktur perekonomian bisa timbul dari adanya perdagangan internasional. Di masa lampau, dan gejala-gejalanya masih tersisa sampai sekarang, kenaikan ivestible surplus tersebut cenderung untuk diinvestasikan di sektor “modern” dan hanya sedikit yang mengalir ke sektor “tradisional”. Pertumbuhan semacam ini justru semakin mempertajam dualisme dan perbedaan antara kedua sektor tersebut. Dalam hal ini kita harus berhati-hati untuk tidak mempersamakan pertumbuhan ekonomi dengan pembagunan ekonomi dalam arti sesungguhnya.
Inti dari uraian diatas adalah bahwa kenaikan investible surplus karena perdagangan adalah sesuatu yang nyata. Tetapi kita harus mmpertanyakan lebih lanjut siapa yang memperoleh manfaat, berapa besar manfaat tersebut yang di realisir sebagai investasi dalam negeri, dan adakah pengaruh dari manfaat tersebut terhadap pembangunan ekonomi dalam arti yang sesungguhnya.
Vent For Surplus
Konsep ini aslinya berasal dari Adam Smith. Menurut Adam Smith, perdagangan luar negeri membuka daerah pasar baru yang lebih luas bagi hasil-hasil didalam negeri. Produksi dalam negeri yang semula terbatas karena terbatasnya pasar di dalam negeri, sekarang bisa diperbesar lagi. Sumber-sumber ekonomi yang semula menggangur (surplus) sekarang memperoleh saluran (vent) untuk bisa dimanfaatkan, karena adanya daerah pasar yang baru. Inti dari konsep “vent for surplus” adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terangsang oleh terbukanya daerah pasar baru. Sebagai contoh, suatu negara yang kaya akan tanah pertanian tetapi penduduk relatif sedikit. Sebelum kemungkinan perdagangan dengan luar negeri terbuka, negara tersebut hanya mnghasilkan bahan makanan yang cukup untuk menghidupi penduduknya dan tidak lebih dari itu. Banyak tanah yang sebenarnya subur dan cocok bagi pertanian dibiarkan tak terpakai. Dengan adanya kontak dengan pasar dunia, negara tersebut mulai menamam barang-barang perdagangan dunia seperti lada, kopi, teh, karet, gula, dan sebagainya dengan memanfaatkan tanah pertanian yang menganggur tersebut. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi meningkat.
Yang perlu dicatat disini adalah bahwa pemanfaatan tanah-tanah pertanian baru tersebut memerluakan modal dan investasi yang sangat besar, jauh melebihi kemampuan negara itu sendiri untuk membiayainya. Oleh sebab itu sejarah mencatat bahwa pembukaan perkebunan-perkebunan hampir selalu berasal dari modal asing. Ini jelas dari sejarah negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, India, Sri Langka, dan banyak lagi lainnya. Di masa sekarang sumber-sumber ekonomi yang belum dimanfaatkan kebanyakan tidak lagi berupatanah-tanah pertanian (meskipun kadang-kadang masih demikian), tetapi berupa sumber-sumber alam (khususnya energi) dan kadang-kadang juga tenaga kerja yang murah dan berlimpah dan murah. Modal yang besar dan teknologi tinggi diperlukan bagi pemanfaatan sumber-sumber alam ini, dan semuanya itu seringkali di luar kemampuan negara pemilik sumber-sumber tersebut untuk membiayai dan melaksanakannya. Jadi tetap memerlukan modal dan teknologi asing. Perhatikan bahwa inti dari proses “vent for surplus” ini tetap sama, baik dulu maupun sekarang, yaitu: sumber-sumber ekonomi yang tidak bisa dimanfaatkan kecuali apabila ada saluran ke pasar dunia dan apabila modal asing diperkenankan masuk. Perbedaan pokoknya adalah bahwa di masa lampau negara-negara pemilik sumber-sumber alam tersebut adalah negara jajahan, sedangkan sekarang adalah negara merdeka dengan pemerintah nasionalnya. Kunci daripada apakah proses “vent for surplus” ini akan menghasikan pembangunan ekonomi dalam arti sesungguhnya dalam arti sesungguhnya ataukah hanya “pertumbuhan ekonomi” seperti yang telah terjadi di zaman lampau, terletak di tangan pemerintah nasional. Mereka harus bisa meraih sebagian besar dari “manfaat perdagangan” yang dihasilkan dan menggunakannya bagi kepentingan pembangunan nasionalnya dalam arti yang sebenarnya.
Produktivitas memiliki pengaruh yang sangat penting dari perdagangan luar negeri terhadap sektor produksi berupa peningkatan produktivitas dan efisiensi pada umumnya. Kita bisa membedakan tiga sumber utama dari peningkatan produktivitas dan efisiensi yang ditimbulkan oleh adanya perdagangan luar negeri.
a.Economies of scale berarti makin luasnya pemasaran produksi bisa diperbesar dan dilakukan dengan cara yang lebih murah dan efisien (Economies of scale menurunkan Long Run Average Cost dari suatu sector industri).
b.Teknologi baru berarti perdagangan internasional dan hubungan luar negeri pada umumnya dikatakan sebagai media yang penting bagi penyebaran teknologi dari negara – negara maju ke negara yang belum berkembang. Bentuk yang langsung dari penyebaran teknologi ini adalah apabila dengan dibukanya hubungan dengan luar negeri suatu negara bisa mengimpor barang misalnya mesin yang bisa meningkatkan produktivitas didalam negeri. Sebagai contoh, suatu negara sedang berkembang mengimpor komputer untuk memperbaiki produktivitas aparat pemerintannya. Sebetulnya disini yang dimpor adalah “teknologi baru” yang terkandung dalam computer tersebut. Bentuk penyebaran teknologi yang bersifat tidak langsung tetapi kadang sangat penting. Apabila para produsen dalam negeri memperoleh pengetahuan mengenai produk baru. Cara – cara yang dilakukan akan lebih efisien dalam produksi, pemasaran dan manajemen perusahaan pada umumnya, semangat dan motivasi baru untuk melakukan inovasi. Misalnya dimasa lalu petani Indonesia memperoleh manfaat dari perkebunan Belanda berupa pengetahuan mengenai produk baru seperti kopi, teh, tembakau, karet dan gula yang laku dipasaran dunia dan cara penanamannya yang baik. “belajar” teknologi baru seperti ini lebih memiliki manfaat yang besar dan berdifat lebih lestari daripada hanya “membeli” teknologi seperti dalam contoh di atas.
c.Rangsangan persaingan berarti peningkatan efisiensi tidak hanya terjadi lewat teknologi baru melainkan juga “lewat pasar”. Dikatakan bahwa dibukanya perdagangan internasional tidak jarang membuat sektor – sector tertentu didalam perekonomian yang semula “tertidur” dan tidak efisien menjadi sector yang lebih dinamis berkat adanya pengaruh persaingan dari luar. Sebagai contoh, jika suatu pasar domestic yang dikuasai oleh sebuah perusahaan monopoli yang tidak efisien. Kerugian yang ditanggung masyarakat dengan adanya sector ini akan lebih tinggi. Namun, karena berbagai hal tidak ada perusahaan dalam negeri yang bisa masuk ksektor ini dan menggeser posisi perusahaan monopoli tersebut. Apabila kemudian hubungan kluar negeri dibuka, bisa diharapkan bahwa barang – barang yang sama atau serupa dengan hasil produksi sector tersebut tetapi dijual dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih baik akan mengalir masuk kedalam negeri. Dalam hal ini dibukanya perdagangan mempunyai pengaruh yang serupa dengan masuknya perusahaan – perusahaan baru yang lebih efisien ke sektor tersebut. Jadi perdagangan luar negeri bisa meningkatkan efisiensi suatu sektor melalui peningkatan persaingan. Dalam prakteknya, Apabila keadaan seperti ini terjadi maka bisa diharapkan bahwa perusahaan monopoli yang merasa kelangsungan hidupnya dibahayakan akan berusaha untuk menghalang – halangi mengalirnya barang – barang ke luar negeri. Misalnya dengan menuntut pengenaan bea masuk yang tinggi. Dalam hal ini pemerintah harus mempertimbangkan berbagai kepentingan termasuk kepentingan konsumen, produsen, buruh dan kepentingan masyarakat pada umumnya. Seringkali masalahnya menjadi sulit dan rumit karena argumentasi ekonomi sering dikacaukan dengan argumentasi politis dan kepentingan golongan atau sektoral.
Ada beberapa hal penting untuk dicatat mengenai kemungkinan peningkatan produktivitas melalui hubungan internasional ini. Diantara ketiga sumber peningkatan produktivitas yaitu Economies of scale, teknologi baru dan rangsangan persaingan. Salah satu mendapatkan penekanan dan perhatian khusus dari Negara sedang berkembang yaitu teknologi baru. Masalah pemindahan teknologi atau transfer of technologi dari Negara maju ke negar sedang berkembang merupakan topik yang paling banyak diperbincangkan baik dikalangan keilmuan maupun perundingan internasional antara kelompok Negara sedang berkembang dengan kelompok Negara maju. Pemindahan teknologi dilihat sebagai salah satu kunci dari keberhasilan pembangunan di negara yang sedang berkembang. Sampai berapa jauhkan Negara sedang berkembang dapat memperoleh manfaat teknologi baru melalui perdagangan internasional, modal asing dan bantuan luar negari? Jawaban untuk
a.Seberapa jauhkah produsen dan pelaku – pleku ekonomi di dalam negeri siap untuk menerima teknologi baru tersebut ? Hal ini menyangkut bukan hanya keterampilan dan pengetahuan minimal yang harus lebih dulu dimiliki oleh para produsen, buruh didalm negeri tetapi juga berkaitan dengan kesiapan mereka dan dengan ada – tidaknya lingkungan yang menunjang pengalihan teknologi tersebut. Ketidaksiapan dari pihak penerima merupakan faktor penghambat meskipun negaraterkadang Negara sedang berkembang tidak selalu mau mengakuinya dengan jujur.
b.Sampai berapa jauhkan Negara maju termasuk perusahaan asing yang beroperasi dinegara tersebut bersedia untuk memberikan dan mengajar teknologi mereka kepada Negara sedang berkembang? Kemauan dan kejujuran yang sungguh – sungguh dipihak Negara maju merupakan syarat utama dari berhasilnya program pengalihan teknologi ini. Itikad dari pihak Negara maju dan perusahaan – perusahaannyauntuk menyebarkan dan mengajarkan teknologinya juga perlu dipertanyakan, kalau kita lihat betapa lambatnya proses “transfer of technologi ini berjalan dalam prakteknya.
Ada satu masalah lagi selain proses pengalihan teknologi itu sendiri yang perlu diperhatikan. Masalai ini adalah mengenai sesuai tidaknya teknologi yang dialihkan bagi kepentingan pembangunan Negara sedang berkembang. Teknologi yang dikembangkan dinegara maju bersumber pada desakan dan keadaan dinegara tersebut. Sedangkan kebutuhan dan keadaan dinegara sedang berkembang mungkin menuntut teknologi yang berbeda. Sekarang orang mulai mempertanyakan apakah computer, traktor – traktor besar, mesin serba otomatis memang teknologi yang diperlukan oleh Negara yang sedang berkembang pada saat ini. Apakah tidak lebih efektif apabila Negara maju membantu Negara sedang berkembang dalam pengembangan teknologi terbaru yang langsung merupakan jawaban bagi kebutuhan Negara sedang berkembang dan tidak hanya memberikan apa yang telah dikembangkan dinegara maju. Dari sini muncul ide – ide mengenai pentingnya mengembangkan teknologi madya dan sebagainya. Tetapi sampai saat ini belum ada jawaban yang tegas bagi pertanyaan seperti ini dan belum ada kesepakatan diantara para ekonom sendiri.
Bagaimana dengan sumber peningkatan yang lain? Saying bahwa kedua sumber ini tidak memperoleh perhatian yang sepadan disbanding dengan sumber teknologi baru tersebut. Kedua sumber ini pun tidak kalah pentingnya untuk peningkatan prodiktivitas.